
BeritaYogya.com – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sinyal optimisme mengenai potensi penurunan suku bunga lebih lanjut untuk mendukung sektor perumahan rakyat. Pernyataan ini disampaikan usai pertemuan dengan jajaran Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman serta BP Tapera di Jakarta.
Perry menegaskan bahwa masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga, meskipun keputusan akhir akan tetap mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah dan kondisi inflasi.
Selama setahun terakhir, BI telah melakukan empat kali penurunan suku bunga. Perry berharap perbankan nasional dapat merespons dengan menurunkan suku bunga KPR dan deposito mereka.
Selain penurunan suku bunga, BI juga memberikan dukungan melalui dua kebijakan utama yaitu pelonggaran kebijakan makroprudensial dengan menurunkan Rasio Intermediasi Makroprudensial dari 5% menjadi 4% yang berpotensi menambah likuiditas perbankan hingga Rp80 triliun untuk kredit perumahan, serta skema burden sharing pembelian SBN senilai Rp155 triliun dimana Rp45 triliun dialokasikan khusus untuk perumahan rakyat.
Dukungan BI terhadap sektor perumahan didasarkan pada tiga pertimbangan utama: pertama, perumahan sebagai kebutuhan dasar yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat; kedua, efek multiplier yang kuat terhadap industri pendukung seperti semen dan bahan bangunan; dan ketiga, penciptaan lapangan kerja yang luas yang berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat. Kebijakan-kebijakan ini diharapkan dapat semakin mempermudah akses masyarakat terhadap kepemilikan rumah.

































