Yogyakarta, 5 April 2026 – Decky Kevin Pradekta resmi dilantik sebagai Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Yogyakarta periode 2026-2027 melalui Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC). Sejumlah agenda strategis juga menjadi prioritas dalam periode ini, antara lain penguatan ideologi kader melalui internalisasi nilai, pembenahan sistem kaderisasi, serta mendorong aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat. Terkait prioritas organisasi di tengah gejolak geopolitik global yang memengaruhi Indonesia, kepemimpinan barunya menyoroti penguasaan kecerdasan buatan (AI) dan ruang digital sebagai kunci aktivisme mahasiswa.
Pelantikan Decky Kevin menandai transisi kepemimpinan yang menekankan progresivitas, sejalan dengan tuntutan PMKRI menghadapi dinamika digital. Diskusi Pekan Orientasi Fungsionaris (POF) PMKRI DIY baru-baru ini membahas aktivisme digital sebagai senjata menyuarakan penderitaan rakyat akibat konflik Ukraina-Rusia, AS-Israel-Iran, dan ketegangan Indo-Pasifik. Efek domino ini memicu inflasi pangan, kenaikan harga bahan pokok, dan tekanan subsidi energi, menuntut narasi kritis di media sosial yang didukung AI untuk analisis data real-time.
“Narasi media sosial mesti dikuasai dengan pemikiran alternatif yang berpihak pada kepentingan publik,” tegas Bara Wahyu Riyadi, Direktur Garda Institute, dalam materi diskusi tersebut. Ia menambahkan, “Keringat aktivis harus beraroma keringat rakyat,” mendorong keterlibatan lapangan di isu pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Decky Kevin, sebagai nahkoda baru, menekankan integrasi AI untuk memperkuat ruang digital PMKRI, seperti pemanfaatan algoritma untuk mobilisasi partisipasi Generasi Z dan efisiensi kaderisasi. “Kami berharap melalui diskusi penting ini PMKRI bisa lebih aktif menyuarakan kepentingan masyarakat,” ujarnya, sejalan dengan materi Lukas Benevides dari Suryakanta Institute tentang merebut ruang publik via kaderisasi progresif.
Tantangan demokrasi Indonesia—kooptasi elit, pelemahan institusi, dan fragmentasi gerakan—dapat diatasi dengan AI yang mendukung transparansi, kompetisi, dan kohesi sosial. Visi ini selaras dengan upaya nasional menjadikan Yogyakarta pusat riset AI, mempersiapkan aktivis PMKRI bersaing di era digital.


































