Diskusi Bersama Sosiologi Kritisi Kebijakan Rekrutmen Marketplace Guru

887
Diskusi Bersama Sosiologi #2 di Gedung ISDB FISHIPOL UNY (Foto: Dokumentasi Pribadi)

BeritaYogya.com – Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta kembali menggelar Diskusi Bersama Sosiologi #2 yang kali ini mengambil tema “Tinjauan Kebijakan Rekrutmen Marketplace Guru: Profesi, Inovasi, dan Solusi.” Kegiatan ini merupakan ajang bagi mahasiswa untuk mengungkapkan pemikiran kritis mereka terhadap fenomena pendidikan terkini pada Sabtu, 9 September 2023 di Gedung ISDB Lt. 4 FISHIPOL UNY.

Kebijakan rekrutmen guru melalui platform marketplace yang pernah diusulkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menjadi sorotan utama dalam diskusi ini.

Khusna Indah Wijayanti, seorang Ahli Muda Bidang Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Informasi dari Dindikpora Kota Jogja, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kebijakan ini. Ia berpendapat bahwa menganggap guru seperti barang yang dapat diperdagangkan adalah tindakan yang tidak pantas. Pemerintah, menurutnya, seharusnya menciptakan platform yang memastikan guru memiliki kompetensi yang baik.

Datu Jatmiko, seorang Dosen Pendidikan Sosiologi di UNY, menekankan pentingnya guru memiliki empat kompetensi standar, yaitu Kompetensi Pedagogik, Kepribadian, Profesional, dan Sosial. Ia juga mengusulkan agar pemerintah menciptakan blueprint dalam menentukan kurikulum pendidikan untuk memberikan pedoman yang kokoh dalam kegiatan belajar mengajar jangka panjang.

Dalam diskusi ini, Datu Jatmiko juga mencatat beberapa keuntungan dan kekurangan dari kebijakan marketplace guru. Keuntungan termasuk potensi peningkatan kesejahteraan guru dengan gaji yang standar, efisiensi dalam perekrutan tenaga pendidik, peningkatan kecepatan rekrutmen sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan menghindari istilah guru yang diberhentikan di tengah jalan. Namun, kebijakan ini juga berisiko merendahkan profesi guru, tidak menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, dan dapat menciptakan kepentingan-kepentingan yang bersaing di antara guru.

Dalam konteks ancaman terhadap kebijakan ini, Datu Jatmiko menegaskan bahwa guru adalah profesi terhormat yang tidak boleh diperjualbelikan. Belum ada mekanisme sekolah yang dapat mengakomodasi model rekrutmen guru melalui marketplace.

Selain mengulas isu kebijakan, Diskusi Bersama Sosiologi ini juga mengajak mahasiswa pendidikan sosiologi untuk memiliki sikap kritis terhadap fenomena sosial di sekitar mereka. Sikap kritis ini, menurut Datu Jatmiko, adalah rasa ingin tahu yang dapat mendorong mereka menjadi problem solver yang aktif mencari solusi atas permasalahan yang ada.

Khusna Indah Wijayanti mendukung kegiatan ini sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menuangkan pemikiran kritis mereka terhadap kebijakan pemerintah. Ia mendorong agar kegiatan serupa terus dilanjutkan. Pendapat serupa juga disuarakan oleh Argent Prianda Dewantara, yang berharap agar kegiatan semacam ini dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berdiskusi tentang fenomena sosial yang terkini.

“Dengan kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya terfokus belajar di kelas saja, tetapi mahasiswa dapat mengikuti praktisi – praktisi terkait dengan MBKM Kebijakan Pendidikan, salah satu temanya adalah kebijakan marketplace guru karena ketika kita membuka diskusi secara bersama – sama, justru akan membuka ide gagasan yang jauh lebih luas sehingga mahasiswa dapat menyalurkan aspirasi mereka melalui ruang – ruang diskusi seperti ini,” ujar Dwi Agustina, M.A. selaku Dosen Pendidikan Sosiologi Pengampu Mata Kuliah MBKM Kebijakan Pendidikan.

Argent Prianda, selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNY menegaskan bahwa kegiatan ini harus tetap dilakukan sebagai wadah mahasiswa untuk menuangkan pikirannya terkait dengan hal hal yang telah dikritisinya. Kegiatan ini sangat bermanfaat sehingga mahasiswa dapat memberikan pandangan terkait kebijakan terbaru saat ini.

Angelika Aurelia dan Nur Fadhila, selaku penanggungjawab kegiatan juga turut memberikan apresiasi terhadap kelancaran kegiatan ini dan berharap agar kegiatan serupa dapat diadakan kembali dengan tema dan topik yang selalu terbaru.

Diskusi Bersama Sosiologi kali ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa pendidikan sosiologi UNY aktif dalam menyuarakan pemikiran kritis mereka terhadap isu-isu pendidikan dan sosial yang tengah berkembang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga panggung bagi mereka untuk berkontribusi dalam membangun pemahaman yang lebih baik tentang masa depan pendidikan di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here