Strategi Agar Generasi Milenial Lebih Tertarik Budaya Lokal Daripada Asing

4
Ilustrasi (Foto: iStock)

BeritaYogya.com – Dalam era globalisasi yang semakin menghubungkan seluruh penjuru dunia, perubahan dalam cara manusia berinteraksi dengan budaya tidak dapat dihindari. Salah satu perubahan yang menarik perhatian adalah kecenderungan generasi milenial untuk lebih tertarik pada budaya luar daripada budaya asli mereka sendiri. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perubahan dalam preferensi, tetapi juga mencerminkan kompleksitas identitas dalam dunia yang semakin terhubung.

Salah satu alasan utama adalah daya tarik inovasi dan kebaruan. Budaya luar sering kali membawa ide-ide dan gaya baru yang dapat memberikan inspirasi segar dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, tren makanan internasional atau gaya fesyen dari belahan dunia lain bisa memberikan sentuhan baru pada rutinitas. Selain itu, budaya luar sering dihubungkan dengan citra modern dan prestise, yang dapat mempengaruhi persepsi diri dan status sosial.

Terdapat banyak individu muda yang tampak kurang tertarik terhadap warisan budaya mereka sendiri. Beberapa di antaranya bahkan beranggapan bahwa elemen-elemen budaya tidak memiliki nilai yang signifikan. Namun, sebaliknya, kebudayaan sejatinya adalah harta yang sangat berharga dan merupakan cerminan identitas kita. Hal ini sangat relevan terutama mengingat Indonesia yang terkenal akan keragaman budayanya. Fakta bahwa tiga diantaranya telah diakui sebagai warisan budaya dunia, yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Situs Manusia Purba Sangiran, semakin menegaskan pentingnya melestarikan dan menghargai aspek budaya ini.

Semangat kebanggaan dan kesadaran untuk menjaga kelestarian budaya kurang ditemukan pada generasi muda Indonesia saat ini. Ketertarikan mereka dalam mempelajari budaya juga terbatas, sedangkan minat mereka cenderung tertuju pada pengetahuan tentang budaya asing. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap hal ini adalah minimnya informasi mengenai kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki tujuh warisan budaya yang patut diapresiasi, dengan tiga diantaranya diakui sebagai warisan budaya dunia. Temuan ini tercermin dalam pandangan bersama yang diungkapkan oleh Koordinator IndoWYN, Lenny Hidayat, bersama dengan Masanori Nagaoka dari Unesco Office, Jakarta, dan Hindra Liu, Wakil Koordinator IndoWYN, pada kesempatan jumpa pers Pelatihan dan Pendidikan Warisan Budaya untuk Generasi Muda Indonesia pada hari Rabu (26/11) di Jakarta.

Sebagai generasi yang terus bergerak maju di era modern, kecenderungan generasi milenial untuk meraih inspirasi dari budaya luar tidak dapat diabaikan begitu saja. Fenomena ini, meskipun kontroversial, mencerminkan dorongan eksplorasi dan keterbukaan terhadap dunia yang lebih luas. Namun, dalam perjalanan ini, penting bagi generasi milenial untuk tidak melupakan akar budaya mereka sendiri. Budaya asli adalah tonggak identitas yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, mengingatkan kita akan akar sejarah yang kaya dan warisan yang berharga.

Saat merangkak keluar dari zona kenyamanan, generasi milenial dapat mengeksplorasi keajaiban budaya lain tanpa meninggalkan budaya mereka sendiri. Mereka dapat merayakan kekayaan dalam keragaman, sambil juga memupuk rasa cinta dan rasa memiliki terhadap budaya sendiri. Dalam usaha menjaga keseimbangan ini, generasi milenial dapat memainkan peran penting dalam merajut benang merah antara masa lalu dan masa kini, serta mengembangkan jembatan antara tradisi dan inovasi.

Dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, memiliki pemahaman mendalam tentang identitas budaya dapat menjadi aset yang tak ternilai. Generasi milenial memiliki potensi untuk menjadi pembawa perubahan yang kuat dengan memadukan kebijaksanaan budaya asli dan wawasan global. Dengan begitu, mereka tidak hanya akan mewarisi warisan berharga, tetapi juga akan memberikan sumbangan berarti bagi masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here