Debat Keempat Pilpres, Tingkat Kematangan Sikap Cawapres Terlihat

Debat Cawapres seharusnya menjadi tempat agung berkumpulnya gagasan para visioner bangsa. Bukan sebagai arena untuk saling serang antar kepentingan pribadi.

6

Jakarta, 22 Januari 2024

Perhelatan debat calon wakil presiden (Cawapres) yang dilaksanakan pada malam Minggu (21/1/2024) menjadi topik perbincangan nasional. Pasalnya, perhatian tertuju pada Gibran Rakabuming, calon nomor urut dua yang dinilai berlebihan dan arogan. Meskipun di awal fokus pada isu-isu substansial, Gibran kemudian memilih untuk melakukan manuver serangan terhadap calon wakil presiden lainnya.

Debat yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center ini mencakup berbagai topik seperti pembangunan berkelanjutan, lingkungan hidup, sumber daya alam, energi, pangan, agraria, masyarakat adat, dan desa. Sehingga menjadi panggung bagi para calon untuk menunjukkan pengetahuan dan sikap matang mereka. Kendati demikian, Gibran memilih untuk mengadopsi strategi provokatif yang dianggap mengaburkan substansi debat yang esensial bagi calon pemilih.

Awalnya, ketiga calon wakil presiden, termasuk Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD, tampaknya berfokus pada substansi dan menghindari konfrontasi. Namun, saat diskusi semakin mendalam, Gibran mulai menunjukkan sisi agresifnya dengan menyerang lawan-lawannya.

Sebagai contoh, ketika ditanya tentang dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan pangan, Gibran mengejek Muhaimin dengan berkomentar, “Enak banget ya, Gus, jawabnya sambil baca catatan.” Serangan semacam ini terus terjadi dalam pertanyaan selanjutnya, termasuk saat membahas konsep inflasi hijau.

Pengamat politik menilai bahwa Gibran lebih cenderung mengarahkan serangannya pada aspek emosional lawan, daripada menyajikan argumen substansial. Kritik terhadap pendekatan ini muncul dari berbagai pihak, termasuk Kunto Adi Wibowo, seorang pakar komunikasi politik, yang menyebutkan bahwa debat ini menjadi kurang memuaskan karena kehilangan fokus pada substansi.

Wibowo juga menyoroti upaya Gibran untuk mempermalukan lawan politiknya, seperti gestur merendahkan yang ditunjukkan kepada Mahfud. Ini dianggap bertentangan dengan citra positif yang selama ini dibangun oleh Gibran.

Dalam merespons pertanyaan Muhaimin mengenai rencana pembangunan berbasis bioregional, Gibran kembali menunjukkan sikap provokatif dengan mempertanyakan komitmen Muhaimin pada lingkungan hidup. Kontroversi semakin meningkat ketika Mahfud menolak untuk menjawab pertanyaan Gibran terkait dengan greenflation.

Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa pendekatan serangan ini mungkin merupakan strategi untuk membangun kesan tertentu di mata pemilih. Wasisto Raharjo Jati, seorang peneliti Pusat Riset Politik BRIN, menyatakan bahwa serangan politik yang mengungkapkan kelemahan kandidat adalah kunci untuk mendapatkan reaksi langsung dari publik.

Meskipun debat mencakup isu lingkungan, Uli Arta Siagian dari Walhi Nasional menilai bahwa tidak ada terobosan baru dari komitmen atau solusi yang diajukan oleh ketiga calon wakil presiden terkait masalah lingkungan. Isu terkait pembukaan food estate dan penegakan hukum terhadap korporasi yang melanggar kebijakan lingkungan juga tidak mendapat penjelasan memadai.

Debat terakhir calon wakil presiden menciptakan kekecewaan di kalangan masyarakat yang mengharapkan diskusi yang lebih mendalam, terutama terkait isu lingkungan yang dianggap krusial bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, perdebatan ini memunculkan pertanyaan tentang kemampuan calon wakil presiden dalam menyajikan argumen substansial dan solusi konkret untuk masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here