Kota Bandung Siapkan Langkah Inovatif Hadapi DBD: Wolbachia

7
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung telah mengadakan On The Job Training tentang Strategi dan Manajemen Implementasi Wolbachia untuk Kecamatan Ujungberung (Foto: Pemprov Jabar)

BeritaYogya.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung telah mengadakan On The Job Training tentang Strategi dan Manajemen Implementasi Wolbachia untuk Kecamatan Ujungberung.

Pemerintah Kota Bandung akan menerapkan inovasi bakteri wolbachia pada telur-telur nyamuk Aedes aegypti. Upaya ini baru akan diujicobakan di Kecamatan Ujungberung.

Kota Bandung juga merupakan daerah endemis DBD dengan jumlah kasus yang cukup tinggi. Karena itu, Kementerian Kesehatan telah memutuskan bahwa Kota Bandung menjadi salah satu dari lima kota percontohan untuk mengimplementasikan penanggulangan DBD berbasis teknologi wolbachia.

Teknologi wolbachia ini melibatkan penyuntikkan bakteri wolbachia pada telur nyamuk Aedes aegypti, sehingga telur-telur ini menetas menjadi nyamuk dewasa.

Ketika nyamuk tersebut menggigit seseorang yang terinfeksi virus demam berdarah, virus tersebut akan mati karena adanya bakteri wolbachia. Dengan demikian, nyamuk Aedes aegypti ini tidak akan mampu lagi menyebarkan virus demam berdarah kepada manusia.

Kecamatan Ujungberung dipilih sebagai pilot project karena masuk dalam 10 kecamatan dengan jumlah kasus DBD tertinggi di Kota Bandung pada tahun 2022. Selain itu, Kepala UPT Puskesmas Ujungberung telah menjalani pelatihan tentang inovasi wolbachia di Yogyakarta.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Bandung, dr. Ira Dewi Jani, menyatakan bahwa implementasi ini akan dimulai pada bulan Oktober mendatang. Saat itu, mereka akan menitipkan telur-telur nyamuk Aedes aegypti yang sudah disuntikkan wolbachia ke dalam ember. Diharapkan nyamuk-nyamuk ini dapat menggantikan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus demam berdarah.

Selanjutnya, nyamuk-nyamuk tersebut dapat berpasangan dengan nyamuk lokal dan menghasilkan nyamuk lain yang sudah secara alami memiliki bakteri wolbachia. Dengan cara ini, nyamuk Aedes aegypti tidak akan menjadi perantara virus dengue lagi.

Ira menjelaskan bahwa telur-telur yang telah disuntikkan wolbachia diproduksi di laboratorium entomologi atau laboratorium serangga. Kota Bandung mendapat pasokan telur-telur ini dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Salatiga.

Ira juga menjelaskan bahwa wolbachia sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di dalam tubuh lalat buah dan hewan kecil yang biasanya berada di sekitar buah-buahan.

Dalam skema ini, nyamuk Aedes aegypti akan tetap ada untuk menjaga keseimbangan ekologis. Namun, mereka sekarang membawa bakteri wolbachia untuk menghentikan penyebaran virus dengue.

Kota pertama yang menerapkan inovasi ini adalah Yogyakarta. Berdasarkan penelitian dan implementasi wolbachia di sana, kasus DBD dapat berkurang hingga 70 persen.

Ira mengingatkan bahwa penerapan wolbachia ini bukan berarti menggantikan seluruh upaya pencegahan DBD yang sudah ada. Langkah-langkah seperti 3M (menguras, menutup, dan mengubur), fogging sesuai indikasi, dan Gerakan Satu Rumah Satu Juru Jumantik akan tetap diterapkan.

Ke depannya, akan ada 33.000 ember yang akan disebar di seluruh Kota Bandung. Namun, penyebarannya akan disesuaikan dengan peta wilayah dan jumlah penduduk, sehingga tidak bisa dilakukan dengan jumlah yang sama di setiap kecamatan.

Ira juga menekankan bahwa inovasi ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan kimia yang tidak sesuai indikasi, sehingga lebih aman bagi lingkungan, masyarakat, dan lebih ekonomis. Dibandingkan dengan fogging, penggunaan wolbachia lebih hemat dalam hal biaya bensin dan obat.

“Jika inovasi ini diterapkan secara merata, diharapkan jumlah kasus DBD akan turun karena virus dengue sudah tidak ada. Dengan demikian, penggunaan fogging juga dapat dikurangi, dan dana dapat dialihkan ke keperluan lain yang lebih penting,” tambahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here