Kerusuhan Usai Laga Arema FC vs Persebaya, PSI: Kepolisian, PSSI & Kemenpora Harus Bertanggung Jawab

15
PSI berharap PSSI Kemenpora dan Polisi bertanggung jawab

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan duka yang mendalam atas meninggalnya 127 suporter usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya, Sabtu (01/10/2022) malam.

“Kami keluarga besar PSI menyatakan turut berduka cita atas meninggalnya 127 orang usai pertandingan di Stadion Kanjuruhan. Semoga ini menjadi peristiwa memilukan yang terakhir di sejarah persepakbolaan Indonesia,” ujar Ketua Umum PSI, Giring Ganesha, Minggu (02/10/2022).

“Seluruh keluarga korban harus mendapat santunan, dan aparat keamanan harus mengusut tuntas penyebab kerusuhan,” lanjut Giring.

Giring menuntut agar permasalahan ini diselesaikan secara terang-benderang.

Menurutnya Kepolisian, PSSI dan Kemenpora harus bertanggung jawab atas kejadian mengerikan ini.

“Tidak bisa selesai hanya dengan saling melempar tanggung jawab,” tegas Giring.

Dengan kejadian ini akan timbul potensi liga Indonesia akan dibekukan FIFA dalam jangka waktu yang relatif panjang.

“Akan sangat menyulitkan saudara-saudara sebangsa, terutama atlet sepak bola, jika sampai terjadi pembekuan liga. Tentu sangat berat,” pungkas Giring.

Dr. R. Stevanus C. Handoko S.Kom., MM anggota DPRD DIY dari Partai Solidaritas Indonesia menyatakan turut prihatin atas tragedy kemanusiaan yang sangat luar biasa di dunia sepak bola. Kejadian ini sangat mencoret dunia olahraga khususnya sepak bola Indonesia.

Menurut  Dr. R. Stevanus, semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan laga Arema FC vs Persebaya harus bertanggung jawab penuh atas kejadian yang sangat memperihatikan. Duka Cita yang mendalam bagi para korban dan dunia sepak bola Indonesia.

Dari hasil sementara yang disampaikan pihak kepolisian berikut ini merupakan kronologi atas kerusuhan yang memakan banyak korban, Berikut kronologi tragedi di Kanjuruhan versi polisi. Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengatakan semula pertandingan Arema vs Persebaya berlangsung lancer hingga laga usai.

Kericuhan mulai terjadi ketika pertandingan berakhir,  sejumlah pendukung Arema merasa kecewa dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.

Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain.

Namun semakin lama kekecewaan suporter makin kuat dan kemarahan tidak terkendali, karena disertai dengan lemparan benda-benda ke lapangan. Tindakan anarkis dan massa yang semakin banyak masuk dalam lapangan membuat aparat kewalahan.

Guna meredakan kemarahan suporter polisi melepaskan tembakan gas air mata ke arah supporter. Dari tembakan air mata itu suporter yang mencoba menghindar kian tidak terkendali, sehingga harus mengorbankan penonton lain dengan menginjak-injak guna menyelamatkan diri. Banyak dari penonton yang mengalami sesak napas akibat asap gas air mata.

Kerusuhan yang terjadi di lapangan Kanjuruhan mengakibatkan dua kendaraan polisi dirusak, salah satunya dibakar. Penonton juga dilaporkan membakar fasilitas lain di stadion.

Kerusuhan tidak hanya terjadi di dalam, kerusuhan juga berimbas ke luar stadion. Total delapan kendaraan polisi dirusak dan kendaraan pribadi lainnya.

Bahkan para pemain Persebaya sempat tertahan hingga satu jam di kendaraan taktis milik polisi. Mobil rantis yang ditumpangi Persebaya juga dilempari suporter Arema.

Sekitar pukul 03:00, Minggu (02/10/2022), Polda Jawa Timur menggelar konferensi pers terjadi tragedi di Kanjuruhan. Sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal, dua di antaranya polisi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here